Materi Soal Tes Wawasan Kebangsaan CPNS 2018 (Bineka Tunggal Ika)
Bhineka Tunggal ika adalah semboyan bangsa Indonesia, garuda pancasila. Farsa ini berasal dari jawa kuno yang artinya adalah ''berbeda-beda tetapi tetap satu.''
Diterjemahkan perkata, kata neka dalam bahasa sansekerta berarti ''macam'' dan menjadi pembentuk kata ''aneka'' dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti "satu", Kata ika berarti "itu."
Secara Kharfiah Bhineka tunggal ika diterjemahkan "Beraneka satu itu." Yang bermakna meskipun beraneka ragam tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan.
Semboyan digunakan untuk mengambarkan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, ras, suku bangsa, agama, dankepercayaan.
Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuno yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.
Sejarah Bhinneka Tunggal Ika
Semboyan
Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah kutipan yang diambil dari Kitab
Sutasoma karangan Empu Tantular yang ditulis atau dikarang pada tahun
ke-14 Masehi atau lebih tepatnya pada zaman Kerajaan Majapahit yang
notabene menganut kepercayaan Hindu. Empu Tantular adalah seorang
penganut Budha pada masa Majapahit, tapi itu tidak membuat hidupnya
menjadi tidak aman atau tidak tentram. Sebaliknya, Empu Tantular
menjalani suatu kehidupan yang aman dan tentram di bawah kepercayaan
Hindu yang dianut oleh kerajaan.
Dalam kitab tersebut, Empu Tantular
menulis “Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring
apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” (Bahwa agama Buddha
dan Siwa (Hindu) adalah zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran
Jina(Buddha) dan Siwa yaitu tunggal. Terpecah belah, tetapi satu jua,
artinya tak ada dharma yang mendua).
Bhinneka
Tunggal Ika mulai menjadi bahan diskusi saat dimulainya suatu proses
persiapan kemerdekaan Indonesia. Saat itu, Ir.Soekarno bersama dengan
Muhammad Yamin, dan I Gusti Bagus Sugriwa membuat diskusi kelompok kecil
di sela-sela sidang BPUPKI perihal dalam mempersiapkan
kesiapan-kesiapan untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Sesudah
beberapa tahun kemudian, ketika para tokoh bangsa yang
sudah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia berembuk untuk merancang
lambang Negara, maka timbullah ide untuk memasukkan semoyan Bhinneka
Tunggal Ika ke dalam lambang tersebut. Maka jadilah, pada lambang burung
garuda, pada kaki burung tersebut, terdapat tulisan Bhinneka Tunggal
Ika.
Secara resmi, lambang burung
Garuda beserta tulisan Bhinneka Tunggal Ika tersebut dipakai pada saat
Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat yang dipimpin oleh wakil
presiden saat itu, yaitu Mohd.Hatta pada tanggal 11 Februari 1950.
Lambang ini disahkan yang berdasarkan usulan dari Sultan Hamid 2 dan
Muh.Yamin. sebenarnya, banyak sekali yang mengusulkan rancangan lambang
dari tokoh-tokoh saat itu, tetapi yang terpilih yaitu rancangan yang
dibuat oleh Sultan Hamid beserta Muh.Yamin.
Sebenarnya,
semboyan Bhinneka Tunggal Ika lebih bermanifestasi kepada keadaan
kepercayaan atau agama pada masa itu. Empu Tantular dalam kitabnya,
menceritakan kata-kata itu untuk menggambarkan keadaan damai yang
dirasakan meskipun terdapat perbedaan kepercayaan. tapi, oleh para tokoh
bangsa, semboyan ini diberikan penafsiran baru untuk memenuhi
permintaan kondisi akan zaman tersebut. Indonesia yang beraneka ragam
tetapi bersatu padu, dianggap sesuai dengan makna semboyan tersebut.
Para
Founding Fathers yang kebanyakan beragama Islam pada saat itu, terlihat
sangat toleran terhadap usulan semboyan yang diusulkan oleh Muh.Yamin.
watak inilah yang menjadi cerminan rakyat Indonesia yang sangat toleran
terhadap keanekaragaman yang ada. Rakyat Indonesia sudah mengenal aneka
ragam suku bangsa, ras, kepercayaan jauh sebelum agama-agama datang dan
masuk ke Indonesia.
Fungsi Bhinneka Tunggal Ika
Bangsa
Indonesai sudah lama hidup di dalam keaneka ragaman, tetapi hal ini
tidak pernah menampilkan perseteruan antar rakyat Indonesia. Keberagaman
yang ada dipakai untuk membentuk suatu Negara yang besar. Keberagaman
yang terjadi baik itu di dalam segi kepercayaan, warna kulit, suku
bangsa, agama, bahasa, menjadikan Bangsa Indonesia merupakan suatu
bangsa yang besar dan berdaulat. Sejarah mencatat bahwasanya semua anak
bangsa yang tergabung dalam berbagai macam suku turut serta
memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan mengambil peran
masing-masing.
Para tokoh bangsa yang
bergerak dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sudah menyadari
tantangan yang harus dihadapi oleh karena kemajemukan yang ada di dalam
bangsa ini. Keberagaman menjadi sebuah realitas yang tidak
bisa dihindari di dalam negeri ini. Pemikiran dan tindakan yang
diperbuat tidak lain dan tidak bukan hanya untuk menunjukkan pada dunia
bahwa cita-cita bangsa akan terwujud dengan keanekaragaman itu.
Ke-bhinneka-an adalah sebuah hakikat realitas yang sudah ada dalam
bangsa Indonesia, sedangkan ke-Tunggal-Ika-an adalah sebuah cita-cita
kebangsaan. Semboyan inilah yang menjadi jembatan emas penghubung menuju
pembentukan Negara berdaulat serta menunjukkan kebesarannya di mata
dunia.
Konsep
Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah semboyan yang dijadikan dasar Negara
Indonesia. Oleh sebab itu, Bhinneka Tunggal Ika patut dijadikan sebagai
landasan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan di dalam bangsa
Indonesia. Kita sebagai generasi selanjutnya yang bisa menikmati
kemerdekaan dengan mudah, haruslah bersungguh-sungguh dalam
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat saling menghargai
dengan masyarakat tanpa saling memikirkan percampuran suku bangsa, ras,
agama, bahasa, dan keaneka ragaman lainnya. Tanpa adanya kesadaran di
dalamdiri rakyat Indonesia, maka pantaslah Indonesia akan hancur dan
terpecah belah.
Prinsip Bhinneka Tunggal Ika
1. Common Denominator
Di
Indonesia, berbagai macam keaneka ragaman yang ada tidaklah membuat
bangsa ini menjadi pecah. Terdapat 5 agama yang ada di Indonesia, dan
hal tersebut tidak membuat agama-agama tersebut untuk saling mencela.
Maka sesuai dengan prinsip pertama dari Bhinneka Tunggal Ika, maka
perbedaan-perbedaan di dalam agama tersebut haruslah dicari common
denominatornya, atau dengan kata lain kita haruslah mencari sebuah
persamaan dalam perbedaan itu, sehingga semua rakyat yang hidup di
Indonesia dapat hidup di dalam keanekaragaman dan kedamaian dengan
adanya kesamaan di dalam perbedaan tersebut.
Begitu
juga halnya dengan dengan aspek lain yang mempunyai perbedaan di
Indonesia, seperti adat dan kebudayaan yang terdapat di setiap daerah.
Semua macam adat dan budaya itu tetap diakui konsistensinya sebagai adat
dan budaya yang sah di Indonesia, tapi segala macam perbedaan tersebut
tetap bersatu di dalam bingkai Negara kesatuan republik Indonesia.
2. Tidak Bersifat Sektarian dan Enklusif
Makna
yang terkandung di dalam prinsip ini yakni semua rakyat Indonesia dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dibenarkan menganggap bahwa
dirinya atau kelompoknya adalah yang paling benar, paling hebat, atau
paling diakui oleh yang lain. Pandangan-pandangan sectarian dan enklusif
haruslah dihilangkan pada segenap tumpah darah Indonesia, karena ketika
sifat sectarian dan enklusif sudah terbentuk, maka akan banyak suatu
konflik yang terjadi dikarenakan kecemburuan, kecurigaan, sikap yang
berlebihan, dan kurang memperhitungkan keberadaan kelompok atau pribadi
lain.
Bhinneka Tunggal Ika sifatnya
inklusif, dengan kata lain segala kelompok yang ada haruslah saling
memupuk rasa persaudaraan, kelompok mayoritas tidak memperlakukan sebuah
kelompok minoritas ke dalam posisi terbawah, tetapi haruslah hidup
berdampingan satu sama lain. Kelompok mayoritas juga tidak harus
memaksakan kehendaknya kepada kelompok lain.
3. Tidak Bersifat Formalistis
Bhinneka
Tunggal Ika tidak bersifat formalistis, yang hanya menunjukkan sebuah
perilaku semu dan kaku. Tetapi, Bhinneka Tunggal Ika sifatnya universal
dan menyeluruh. Hal ini dliandasi oleh adanya rasa cinta mencintai, rasa
hormat menghormati, saling percaya mempercayai, dan saling rukun antar
sesame. Karena dengan cara inilah, keanekaragaman bisa disatukan dalam
bingkai ke-Indonesiaan.
4. Bersifat Konvergen
Bhinneka
Tunggal Ika sifatnya konvergen dan tidak divergen. Segala macam keaneka
ragaman yang ada bila terjadi masalah, bukan untuk dibesar-besarkan,
tetapi haruslah dicari satu titik temu yang bisa membuat segala macam
kepentingan menjadi satu. Hal ini bisa dicapai bila terdapatnya sikap
toleran, saling percaya, rukun, non sectarian, dan inklusif.
Implementasi Bhinneka Tunggal Ika
Implementasi
terhadap Bhinneka Tunggal Ika bisa tercapai bila rakyat dan seluruh
komponen mematuhi prinsip-prinsip yang sudah disebutkankan di atas.
Yakni :
1. Perilaku Inklusif
Seseorang
haruslah menganggap bahwa dirinya sedang berada di dalam suatu populasi
yang luas, sehingga dia tidak melihat dirinya melebihi dari yang lain.
Begitu juga dengan kelompok. Kepentingan bersama lebih diutamakan
daripada sebuah keuntungan pribadi atau kelompoknya. Kepentingan bersama
bisa membuat segala komponen merasa puas dan senang. Masing-masing
kelompok mempunyai peranan masing-masing di dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
2. Mengakomodasi Sifat Prulalistik
Ditinjau
dari keanekaragaman yang ada di dalam negeri ini, maka sepantasnyalah
bila Indonesia adalah bangsa dengan tinglat prulalistik terbesar di
dunia. Hal inilah yang membuat bangsa kita disegani oleh bangsa lain.
Tapi, bila hal ini tidak bisa dipergunakan dengan baik, maka sangat
mungkin akan terjadi disintegrasi di dalam bangsa.
Agama,
ras, suku bangsa, bahasa, adat dan budaya yang ada di Indonesia
mempunyai jumlah yang tidak sedikit. Sikap saling toleran, saling
menghormati, saling mencintai, dan saling menyayangi menjadi hal mutlak
yang dibutuhkan oleh segenap rakyat Indonesia, supaya terciptanya
masyarakat yang tenteram dan damai.
3. Tidak Mencari Menangnya Sendiri
Perbedaan
pendapat adalah hal yang lumrah terjadi pada zaman sekarang. Apalagi
ditambah dengan diberlakukannya sistem demokrasi yang menuntut segenap
rakyat bebas untuk mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Oleh
sebab itu, untuk mencapai prinsip ke-Bhinneka-an, maka seseorang
haruslah saling menghormati antar satu pendapat dengan pendapat yang
lain. Perbedaan ini tidak untuk dibesar-besarkan, tetapi untuk dicari
suatu titik temu dengan mementingkan suatu kepentingan bersama. Sifatnya
konvergen haruslah benar-benar dinyatakan di dalam hidup berbangsa dan
bernegara, jauhkan sifat divergen.
4. Musyawarah untuk Mufakat
Perbedaan
pendapat antar kelompok dan pribadi haruslah dicari solusi bersama
dengan diberlakukannya musyawarah. Segala macam perbedaan direntangkan
untuk mencapai satu kepentingan. Prinsip common denominator atau mencari
inti kesamaan haruslah diterapkan di dalam musyawarah. Dalam
musyawarah, segala macam gagasan yang timbul akan diakomodasikan dalam
kesepakatan. Sehingga kesepakatan itu yang mencapai mufakat antar
pribadi atau kelompok.
5. Dilandasi Rasa Kasih Sayang dan Rela Berkorban
Sesuai
dengan pedoman sebaik-baik manusia yaitu yang bermanfaat bagi manusia
lainnya, rasa rela berkorban haruslah diterapkan di dalam kehidupan
sehari-hari. Rasa rela berkorban ini akan terbentuk dengan dilandasi
oleh rasa salin kasih mangasihi, dan sayang menyayangi. Jauhilah rasa
benci karena hanya akan menimbulkan konflik di dalam kehidupan.
Demikian materi TWK (Bhineka tunggal ika) semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar